Asal-usul Nama dan Latar Sejarah
Nama asli Candi Jago adalah Jajaghu, sebagaimana tercatat dalam dua sumber utama: Kakawin Nagarakretagama pupuh 41:4 dan Pararaton. Kata jajaghu berarti “keagungan” dan merupakan istilah untuk menyebut tempat suci. wikipedia+2
Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Singhasari (abad ke-13) sebagai bentuk penghormatan (pendharmaan) terhadap Raja Wisnuwardhana, raja ketiga atau keempat Singhasari (tergantung versi sumber), yang mangkat tahun 1268 M. kebudayaan.kemdikbud.go+2
Pembangunan candi diperintahkan oleh Raja Kertanagara (putra Wisnuwardhana) dan berlangsung antara 1268–1280 M, bertepatan dengan upacara śrāddha (ritual pelepasan arwah 12 tahun setelah kematian). kebudayaan.kemdikbud.go+2
Lokasi dan Status Cagar Budaya
Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sekitar 22 km dari Kota Malang. Koordinat: 8°0′20.81″S 112°45′50.82″E. wikipedia+1
Saat ini, Candi Jago dikelola oleh Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan RI, dan terdaftar sebagai Cagar Budaya Nasional (No. Regnas CB.445). wikipedia
Aksara Kawi dan Prasasti di Candi Jago
Prasasti Manjusri (1343 M)
Salah satu bukti penggunaan aksara Kawi (Jawa Kuno) di Candi Jago adalah Prasasti Manjusri, yang dipahatkan pada arca Mañjuśrī dengan aksara Jawa Kuno dan bahasa Sanskerta. Prasasti ini berangka tahun 1265 Śaka (sekitar 1343–1344 M). lindriastuti.wordpress
Prasasti ini mencatat bahwa Adityawarman (seorang bangsawan dan menteri praudhatara di bawah Rajapatni Majapahit) menempatkan arca Mañjuśrī di Jinalaya (tempat pendarmaan Buddha) di Candi Jago. lindriastuti.wordpress
Isi Prasasti Manjusri (terjemahan):
“Sebuah arca Mañjuśrī ditempatkan di candi Jinalaya oleh Arya Wangsadiraja. Dalam kerajaan yang dikuasai oleh Rajapatni yang utama, Adityawarman, tadbaaṅśajaḥ (lahir dari keluarganya) mantri Praudhatara, di Bhumi Jawa, mendirikan suatu candi di Jinalayapura, agar membawa ayah ibu dan nenek moyang ke bahagia yang sempurna, pada tahun 1265 Śaka.” lindriastuti.wordpress
Prasasti ini menunjukkan bahwa Candi Jago tidak hanya didirikan pada masa Singhasari, tetapi juga mengalami pemugaran dan penambahan pada masa Majapahit di bawah Adityawarman. wikipedia+1
Nagarakretagama Pupuh 41:4
Dalam Nagarakretagama pupuh 41:4, disebutkan bahwa Raja Wisnuwardhana didharmakan di dua tempat:
-
Waleri sebagai Siwa (Hindu)
-
Jajaghu sebagai Buddha
Ini menunjukkan bahwa Wisnuwardhana menganut Sinkretisme Siwa-Buddha, yang menjadi ciri khas keagamaan Singhasari akhir. kebudayaan.kemdikbud.go+1
Relief dan Cerita yang Terukir
Candi Jago memiliki relief-relief yang mengisahkan berbagai cerita keagamaan dan moral, antara lain:
-
Kresnayana (kisah Kresna)
-
Parthayajna (kisah Arjuna)
-
Arjunawiwaha (perkawinan Arjuna dengan Dewi Suprabha)
-
Kunjarakarna (kisah raksasa yang ingin menjadi manusia)
-
Pancatantra dan fabel (kisah binatang dengan pesan moral) wikipedia+1
Salah satu fabel terkenal adalah kisah kura-kura yang digigit kayu dan diterbangkan angsa, yang jatuh karena tertawa saat dihina serigala. Pesan moralnya: jangan mudah terpengaruh oleh ejekan orang lain. wikipedia
Nilai-nilai yang Terkandung
1. Sinkretisme Agama
Candi Jago mencerminkan perpaduan Hindu-Buddha (Siwa-Buddha) yang berkembang pada masa Singhasari. Wisnuwardhana didharmakan sebagai Siwa di Waleri dan sebagai Buddha di Jajaghu. kebudayaan.kemdikbud.go+1
2. Penghormatan terhadap Leluhur
Pembangunan candi sebagai bentuk bhakti putra (Kertanagara) kepada ayah (Wisnuwardhana) menunjukkan nilai penghormatan terhadap leluhur dan tradisi pendharmaan raja-raja Jawa kuno. kebudayaan.kemdikbud.go+1
3. Pendidikan Moral dan Spiritual
Relief-relief seperti Kunjarakarna dan fabel kura-kura mengandung pesan dedaktif (pendidikan moral) dalam ajaran Buddha, seperti pentingnya keteguhan hati, tidak mudah terpengaruh ejekan, dan usaha mencapai kesempurnaan spiritual. wikipedia+1
4. Politik dan Kekuasaan
Candi Jago juga memiliki nilai politik, sebagai simbol legitimasi kekuasaan Kertanagara dan hubungan darah dengan Majapahit (melalui Adityawarman). kebudayaan.kemdikbud.go+1
5. Seni dan Arsitektur
Candi Jago menunjukkan keunggulan seni relief dan arsitektur Singhasari, dengan motif padma (teratai) yang khas dan struktur teras berundak yang menyerupai punden berundak. wikipedia+1
Ringkasan
Candi Jago (Jajaghu) adalah candi Siwa-Buddha dari masa Singhasari yang didirikan sebagai pendharmaan Raja Wisnuwardhana. Candi ini mengandung prasasti aksara Kawi (Prasasti Manjusri, 1343 M) yang mencatat pemugaran oleh Adityawarman pada masa Majapahit. Relief-reliefnya mengisahkan cerita Kresnayana, Arjunawiwaha, Kunjarakarna, dan fabel, yang mengandung nilai moral, spiritual, dan politik. Candi Jago merupakan bukti sinkretisme agama, penghormatan leluhur, dan keunggulan seni arsitektur Jawa kuno. kebudayaan.kemdikbud.go+3en.wikipedia
Jika Anda membutuhkan transkripsi lengkap aksara Kawi dari Prasasti Manjusri atau analisis lebih mendalam tentang relief tertentu, saya dapat melanjutkan penelitian.